• Waktu Ideal Berolahraga

    Meluangkan waktu olahraga di tengah padatnya aktivitas kerja terkadang menjadi persoalan sulit. Padahal, hanya perlu beberapa menit demi mempertahankan kesehatan tubuh dalam jangka panjang. Kebutuhan olahraga seseorang per hari tak sama....

  • Cara Menghilangkan Stress Tanpa Obat

    Bila emosi sudah tidak bisa dibendung, alihkan perhatian Anda untuk sejenak fokus pada sesuatu yang baru. Misalnya melihat ke jendela, menyeruput teh hangat, atau memperhatikan pohon yang tertiup angin. Biarkan imajinasi Anda bebas untuk sesaat...

  • Olahraga

    Latihan sering dan rutin sehari-hari membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh, membantu mencegah “penyakit kemakmuran” seperti: penyakit jantung, penyakit jantung, diabetes, dan obesitas. Hal ini juga meningkatkan kesehatan mental, dan mencegah depresi....

  • Diet

    Menjadi terlalu gemuk atau kurus tidak baik untuk Anda. Dokter anda dapat memberitahu Anda jika Anda berada di bawah atau di atas berat badan. Olahraga dan makanan yang Anda makan dapat mengubah berat badan, jadi ingatlah bahwa dalam pikiran....

Apakah Baik tidur terlalu Lama ?

Tidur Terlalu Lama? Sehatkah?Kita tentu tahu bahwa waktu tidur yang kurang dapat mempengaruhi performa kerja serta dapat meningkatkan resiko hipertensi, penyakit jantung dan diabetes. Namun, ternyata waktu tidur yang lama pun memiliki efek yang kurang baik bagi kesehatan! Penelitian menunjukkan bahwa responden yang memiliki waktu tidur lebih dari 8 jam per hari lebih rentan terkena metabolic syndrome dibandingkan responden yang tidur 6-8 jam per hari.


Apa itu Metabolic Syndrome?
Metabolic syndrome adalah kelompok faktor risiko terkait obesitas yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes, dan stroke. Adapun faktor resiko tersebut antara lain:
  • Tingginya kadar lemak di perut (ditandai dengan nilai lingkar pinggang lebih dari 80 cm bagi wanita atau lebih dari 90 cm bagi pria)
  • Kadar trigliserida tinggi (lebih dari 150 mg/dl)
  • Kadar kolesterol HDL yang rendah (lebih dari 35 mg/dl untuk pria dan lebih dari 39 mg/dl untuk wanita)
  • Tekanan darah tinggi (lebih dari 140/90 mmHg)
  • Gula darah puasa tinggi (lebih dari 100 mg/dl)
Seseorang didiagnosis mengalami metabolic syndrome apabila memiliki 3 atau lebih faktor resiko di atas. Adapun seseorang yang mengalami metabolic syndrome akan lebih rentan terhadap penyakit jantung koroner, diabetes, hipertensi, stroke, dan masalah kesehatan lainnya.

Hubungan lama tidur dengan Metabolic Syndrome
Responden yang memiliki waktu tidur di atas 8 jam per hari ternyata memiliki risiko metabolic syndrome 15% lebih tinggi dibandingkan responden yang tidur 6-8 jam per hari1. Hal ini diduga berkaitan dengan fungsi proinflammatory cytokines. Tingginya kadar proinflammatory cytokines berdampak pada peningkatan lamanya waktu tidur. Proinflammatory cytokines ini pun memiliki efek yang buruk terhadap homeostasis glukosa serta fungsi β-cell yang dapat berujung pada diabetes.
Selain itu, lamanya waktu tidur bisa saja menjadi kompensasi dari kualitas tidur yang kurang baik. Tubuh akan mengompensasikan kualitas tidur yang kurang baik dengan waktu tidur yang lebih panjang. Padahal, kualitas tidur yang kurang baik dapat berujung pada penurunan sensitivitas insulin yang dapat berujung pada diabetes.
Tidur kurang dari 6 jam ataupun lebih dari 8 jam per hari berdampak pada risiko metabolic syndrome. Karena itu, usahakan untuk tidur selama 6-8 jam per hari. Perbaiki juga kualitas tidur Anda agar tubuh Anda dapat beristirahat dengan baik!

References:
  • Hall, M.H., et. al. 2008. Self-Reported Sleep Duration is Associated with the Metabolic Syndrome in Midlife Adults. Sleep 31: 635-643.
  • Gangwische, J.E., et. al. 2007. Sleep duration as a risk factor for diabetes incidence in a large US sample.


Batasi Garam, Cegah Hipertensi !

“…Tanpa disadari konsumsi garam dalam sehari kita mungkin sudah berlebih.”

Pernah terpikir untuk membatasi garam? Membatasi gula mungkin terdengar lebih familiar. Namun ternyata, membatasi garam juga perlu. Umum dikenal sebagai garam, natrium klorida/sodium klorida, dijumpai di hampir semua jenis makanan yang kita santap sehari-hari. Selain ditambahkan untuk memperkaya rasa, garam juga kerap digunakan dalam pengolahan berbagai jenis makanan. Tak heran, tanpa disadari konsumsi garam dalam sehari kita mungkin sudah berlebih. Tak terlihat tapi mematikan.

Konsumsi garam berlebih erat kaitannya dengan peningkatan resiko hipertensi. Sementara, hipertensi merupakan faktor utama resiko penyakit jantung. Masalahnya, sebagian besar orang di dunia mengonsumsi garam lebih dari jumlah yang ditentukan oleh rekomendasi internasional. Rata-rata orang Asia mengonsumsi garam hingga lebih dari 2x lipat batas rekomendasi, atau 12gr/hari, padahal batas anjurannya adalah 6 gr/hari atau 1 sdt garam (mengandung ± 2000 mg natrium). Tak heran, saat ini, hasil studi menunjukkan bahwa 1 dari 4 penduduk dunia menderita hipertensi. Di Indonesia sendiri, data survei kesehatan menunjukkan 3 dari 10 orang Indonesia berusia di atas 18 tahun mengalami hipertensi.

Seseorang dikatakan mengalami hipertensi jika tekanan darahnya melebihi 140/90 mmHg (sistolik/diastolik). Ketika kadar natrium dalam darah tinggi dan tidak dapat dikeluarkan oleh ginjal, volume darah meningkat karena natrium bersifat menarik dan menahan air. Peningkatan ini menyebabkan jantung Anda bekerja lebih keras untuk mengalirkan darah ke seluruh pembuluh tubuh. Karena volume darah meningkat, tekanan ke pembuluh darah Anda juga akan lebih tinggi dibandingkan saat Anda tidak mengonsumsi garam dalam jumlah berlebihan.
Efek konsumsi garam yang tinggi juga memperbesar resiko penyakit jantung bagi orang yang mengalami obesitas karena orang-orang dengan berat badan berlebih sangat sensitif terhadap konsumsi garam dalam jumlah tinggi. Resiko stroke secara signifikan meningkat, setiap terjadi peningkatan konsumsi garam.
Hipertensi dan penyakit jantung layak disebut the silent killer. Sebagian besar orang yang menderita hipertensi tidak sadar bahwa dirinya mengalami tekanan darah tinggi, karena seringkali tak ada gejalanya. Hipertensi menjadi semakin buruk dan terlanjur merusak pembuluh darah dan organ-organ vital di tubuh Anda.
Was-was apakah makanan yang Anda santap tinggi garam? Nantikan artikel berikutnya: Apakah Makanan Kesukaan Anda Termasuk Dalam Daftar Makanan Pendukung Hipertensi?

References:

  • Adrogué HJ, and Madias NE. 2007. Sodium and Potassium in the Pathogenesis of Hypertension. N Engl J Med 356:1966-78.
  • Strazzullo P, D’Elia L, Kandala N-B, Cappuccio FP. 2009. Salt intake, stroke, and cardiovascular disease: meta-analysis of prospective studies. BMJ 339:b4567
  • American Heart Association. 2011. Symptoms, Diagnosis & Monitoring of High Blood Pressure. http://www.heart.org/HEARTORG/Conditions/HighBloodPressure/SymptomsDiagnosisMonitoringofHighBloodPressure/What-are-the-Symptoms-of-High-Blood-Pressure_UCM_301871_Article.jsp [9 Februari 2011]
  • Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI. 2008. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Nasional 2007. Departemen Kesehatan RI, Jakarta.
  • MayoClinic.com. 2010. Sodium: How to tame your salt habit now. http://www.mayoclinic.com/health/sodium/NU00284/NSECTIONGROUP=2 [9 Februari 2011]

Siapa Bilang Stroke Itu Mendadak? Kenali Isyaratnya!

Hampir sebagian besar masyarakat percaya bahwa stroke terjadi secara mendadak. Padahal sebelum stroke terjadi, tubuh telah memberikan isyarat. Apakah isyaratnya? Temukan jawabnya pada artikel berikut!





Nomor Tiga
Rasanya tak ada yang tak kenal stroke. Penyakit ini sering disebut-sebut sebagai salah satu penyakit yang mematikan. Hal ini memang benar, karena stroke memegang kedudukan nomor tiga setelah kanker dan jantung. Data statistik di Amerika menyebutkan terdapat 700.000 kasus stroke baru setiap tahunnya. Ini artinya setiap 45 detik, ada satu orang Amerika yang terkena stroke. Di Indonesia sendiri, diperkirakan ada 500.000 penduduk terkena stoke. Dari jumlah tersebut, 2,5%-nya meninggal dan sisanya cacat ringan maupun berat. Tingginya tingkat kejadian penyakit ini sudah sewajarnya membuat kita waspada dan berusaha untuk mencegah terjadinya penyakit ini.

Apa Itu Stroke?
Stroke termasuk penyakit kardiovascular yang mempengaruhi peredaran darah ke otak. Apabila terjadi stroke, maka bagian tertentu dari otak tidak mendapatkan aliran darah atau oksigen. Lambat laun bagian otak tersebut akan menjadi inactive atau mati. Akibatnya bagian tubuh yang dikontrol oleh bagian otak tersebut tidak dapat bekerja secara baik atau ikut menjadi inactive.
Secara praktis, serangan stroke ini dapat dibagi dua. Pertama, Ischemic Stroke yang disebabkan adanya penyumbatan di pembuluh darah sehingga darah tidak dapat mengalir lancar ke otak. Penyumbatan ini terjadi akibat adanya timbunan lemak di pembuluh darah sehingga pembuluh menyempit. Hampir sebagian besar pasien atau sebesar 83% mengalami stroke jenis ini. Kedua, hemorrhagic stroke yang disebabkan pembuluh darah melemah dan kemudian pecah sehingga darah mengumpul di daerah sekitar otak tersebut. Hampir 70 persen kasus haemorrhagic stroke terjadi pada penderita hipertensi.

Ministroke, Isyarat Stroke
Tak banyak yang tahu tentang mini stroke, padahal sebetulnya sebelum stroke terjadi, tubuh telah memberikan isyarat berupa mini stroke. Mini stroke atau yang disebut juga Transient Ischemic Attacks (TIA) memberikan tanda-tanda yang sama pada saat terjadinya ischemic stroke. Hanya saja penyumbatan (blood clot) tidak berlangsung lama dan hilang begitu saja. Sesudah itu mekanisme tubuh kembali normal. TIA terjadi biasanya sekitar kurang lebih 5 menit dan tidak menyebabkan kerusakan otak secara permanen.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1 dari 3 orang yang pernah mengalami stroke sepertiganya telah mengalami pendahuluan berupa ministoke dalam kurun waktu 7 hari sebelum serangan terjadi. Namun sayangnya, banyak orang yang tidak menyadari bahwa itu mini stroke. Oleh karena itu, jika Anda merasakan salah satu atau lebih gejala di bawah ini, segeralah ke dokter untuk mendapat perawatan :
1. Mati rasa atau merasa lemas di bagian muka, lengan atau kaki secara mendadak, terutama di satu sisi tubuh saja
2. Kesulitan untuk berbicara, mengerti, atau bingung secara tiba tiba
3. Kesulitan untuk melihat dengan satu atau dua mata secara mendadak
4. Kesulitan berjalan, pusing atau hilangnya keseimbangan/koordinasi tubuh secara mendadak
5. Pusing yang timbul secara mendadak tanpa penyebab yang jelas

Masih Bisa Sembuh
Stroke merupakan persoalan yang serius karena dampaknya yang tak ringan. Dampak penyakit ini bervariasi, tergantung pada lokasi penyumbatan dan seberapa banyak jaringan otak yang terpengaruh. Kerusakan yang parah bisa menimbulkan kematian, sedangkan kerusakan yang permanen akan menimbulkan gangguan mulai dari penglihatan, bicara, bahasa, kelumpuhan, kordinasi tubuh, penurunan kemampuan kognitif sampai kehilangan memori.
Stroke di Otak Kanan Stroke di Otak Kiri
Paralysis di sisi kiri tubuh Paralysis di sisi kanan tubuh
Masalah penglihatan Kesulitan berbicara
Mempunyai sikap cepat, banyak ingin tahu Mempunyai sikap berhati hati, lamban
Hilang memori Hilang memori
Lalu apakah penderita stroke masih bisa sembuh secara sempurna? Menurut penjelasan dr. Sutarto Pd, SpS, dokter spesialis syaraf dan konsultan neurologi RSPAD Gatot Subroto dalam suatu media, penderita stroke masih dapat sembuh secara sempurna asalkan ditangani dalam jangka waktu 6 jam atau kurang dari itu. Namun, bila lewat dari waktu tersebut tindakan yang perlu dilakukan adalah pemulihan. Tindakan pemulihan ini penting untuk mengurangi komplikasi akibat stroke dan berupaya mengembalikan keadaan penderita kembali normal seperti sebelum serangan stroke.
Dr Ng Yee Sien, konsultan dari Departemen Pemulihan di Rumah Sakit Umum Singapura menyebutkan bahwa upaya untuk memulihkan kondisi kesehatan penderita stroke sebaiknya dilakukan secepat mungkin, idealnya dimulai 4-5 hari setelah kondisi pasien stabil. Tiap pasien membutuhkan penanganan yang berbeda-beda, tergantung dari kebutuhan pasien. Proses ini membutuhkan waktu sekitar 6-12 bulan.
Stroke seringkali menyebabkan penderitanya mengalami stres dan depresi, bahkan beberapa dari mereka berusaha memungkiri dirinya sendiri bahwa mereka menderita stroke. Untuk itu dukungan dari keluarga, shabat dan rekan-rekan sangat dibutuhkan dalam proses pemulihan ini (lis/ptr)

Buah Nanas dapat menyebabkan keguguran untuk ibu hamil

Di dalam ilmu kedokteran belum ada yang bisa menerangkan bahwa nanas dapat menggugurkan kandungan, Maka anda sebaiknya berhati hati saja bila mengkonsumsi nanas muda, hindari bagi wanita yang hamil muda, karena mitos dari buah nanas muda ternyata dapat menggugurkan kandungan si buah hati anda.



Efek Samping dari buah nanas
Buah Nanas muda berpotensi sebagai abortivum atau sejenis obat yang dapat digunakan untuk melancarkan terlambat haid. Karena itu, perempuan hamil dilarang mengkonsumsi nanas muda.
Buah nanas dapat memicu rematik. Di dalam saluran cerna, buah nanas terfermentasi menjadi alkohol. Ini bisa memicu kekambuhan rematik gout. Penderita rematik dan radang sendi dianjurkan untuk membatasi konsumsi nanas.

Meningkatkan gula darah
Buah nanas masak mengandung kadar gula yang cukup tinggi. Jadi, bagi penderita diabetes, sebaiknya tidak mengonsumsi nanas secara berlebihan.
Buah nanas dapat menimbulkan rasa gatal. Terkadang sehabis makan nanas segar, mulut dan lidah terasa gatal. Untuk menghindarinya, sebelum dimakan, rendamlah potongan buah nanas dengan air garam.

Secara umum, makanan yang layak dipantangi untuk ibu hamil, antara lain:
- makanan yang dimasak kurang matang atau daging mentah
- makanan atau minuman yang mengandung mercuri dan alkohol
- makanan yang bersifat ‘panas’ seperti nenas, durian.
- makanan yang mengandung ragi
- minuman yang mengandung kafein